Selamat Datang di Website Resmi Desa PEMDES PLUMPANG PLUMPANG DESA DIGITAL

Artikel

DESA, BENTENG TERAKHIR PERADABAN

21 Januari 2022 00:05:46  Admin Desa  356 Kali Dibaca  Warga Menulis

 

Sebagai format terkecil dari suatu struktur besar yang namanya Negara, desa memiliki peranan ganda dalam dimensi kemasyarakatan. Bukan saja karena faktor geografisnya yang memungkinkan desa tetap terjaga dari berbagai benturan sosial akan tetapi kondisi  masyarakat yang tetap teguh dalam mempertahankan kelokalan menjadikan desa adalah barisan paling tangguh saat kota-kota besar gagal mewujudkan identitas dirinya.

Bisa dibayangkan betapa kosongnya sebuah kehidupan sosial bila masing-masing dari individunya tidak memliki sebuah persamaan cara pandang atau cita-cita bersama. Saat orang-orang kota besar mulai cemas dengan individualistik dan rasa kebersamaan, desa justru hadir sebagai anti tesis dari kecemasan-kecemasan itu.

Ada ungkapan lama “Nek mati budalo dewe” (kalau mati berangkatlah sendiri) ungkapan singkat namun syarat akan makna dan pesan sosial dari sebuah kerukunan. Pesan ini sudah pasti tidak akan mudah dipahami oleh orang-orang yang biasa memaknai segala sesuatu berdasarkan uang atau mereka yang memaksakan dirinya untuk tidak peduli kepada orang lain.

Ungkapan semacam ini sangat banyak ragamnya di desa. Tentu, ini bukanlah sebuah selogan kosong seperti yang marak saat kampanye. Orang desa adalah orang yang bertindak dan berperilaku selaras dengan apa yang disampaikan, bila mereka mengatakan suka artinya mereka memang suka, bila mengatakan tidak artinya memang itulah yang dirasakan. Sikap semacam demikian inilah yang membuat desa menjadi tempat yang istimewa.

Dalam suatu perjalanan wisata, serombongan orang kota datang kedesa, benak mereka dipenuhi oleh hamparan sawah hijau, jalan-jalan yang teduh, anak kecil telanjang dada yang bermain bola, kelok-kelok bukit dan lembah berhawa sejuk atau mungkin kali-kali dekat sumber  yang jernih dan ber-air segar. Akan tetapi harta dari desa yang sebenarnya selalu luput dari pandangan orang-orang itu.

Bila ada seratus orang yang pergi kedesa mungkin keseratusya akan menggambar gunung dan sawah bila mereka diberikan kertas dan pensil lalu diminta untuk menceritakan suwasana desa. Manusia dan aktifitasnya masih dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dari alam. Pandangan akan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam masih agak sulit dipahami untu beberapa kalanagan.

Anggapan ini pula yang pada akhirnya akan melahirkan sekat-sekat sosial dan selanjutnya berujung sikap individual serta sekeptisme yang berlebihan. Pada kasus tertentu bahkan ada individu-individu yang menjalani hidup tanpa tahu akar budaya mereka, seolah-olah sejarahnya baru dimulai saat dia lahir dan sebelum itu tak pernah ada kehidupan yang mendahuluinya.

Hal-hal paling fundamentalpun akan teracuhkan :budaya, adat istiadat, kebiasan, sopan-santun, bahkan agama. Kemunculan individu dengan pandangan demikian memang bukan pada zaman ini saja. Jauh sebelum para pemerhati dan akademisi sosial menyoal gejala-gejala ini, para pangeran dan pembesar kerajaan yang sangat feodal telah terlebih dulu mempraktekanya. Yang menjadi menarik adalah,  desa seolah terlepas bahkan terkesan memiliki tameng khusus untuk menghalau berbagai gejolak yang ada.

Desa dengan segala keunikan serta kelokalitasanya selalu mampu mengatasi berbagai persoalan semacam demikian, tanpa harus terganggu atau merasa dirinya bukan bagian dari perkembangan zaman. Jawaban dari berbagai persoalan yang muncul selalu bisa menjadi solusi kongkrit, tepat guna serta tidak tidak bertele-tele.

Diantara kita mungkin masih ingat, saat pemuda tahun 90an sedang gandrung-gandrungnya dengan musik barat dan alkohol, orang tua di desa cukup menjawabnya dengan menunjukan kesulitan ekonomi dan nasib pendidikan adik-adiknya, sehingga generasi itu lolos dari efek buruk alkohol. Atau yang paling baru saat gawai merebak merubah pola hidup anak-anak desa, orang tua di desa cukup menjawabnya dengan memperketat jadwal mengaji dan menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan lanjutan.

Solusi serta jawaban-jawaban ini mungkin bagi sebagian orang masih merupakan opini, akan tetapi bila dilihat dari kenyataan yang ada, jumlah anak perkotaan  yang mendapat efek buruk dari setiap zaman selalu lebih tinggi dari anak-anak yang hidup dipedesaan. Kalaupun masih ada dalih lain untuk tidak sepakat dengan asumsi di atas, maka faktor geografis dan lingkungan akan menajdi pembenar dari ketidak sepakatan tersebut, tapi apakah benar demikian?

Melihat dari pengertian desa secara umum yang merupakan daerah atministrasi terkecil dari suatu wilayah, maka keberadaan desa yang jauh dari kota menjadi sebuah keniscaan, jadi pertentangan tentang faktor geografis menjadi hal yang tak mungkin untuk diperdabatkan karena secara pengertian dan fungsi sudah pada posisi masing-masing yang sesuai.

Sedang untuk faktor sosial, perbedaan terbesar adalah pada tingkat hetrogen penduduk wilayahnya. Kalau desa cenderung homogen dengan penduduk yang satu warna saja, kota memiliki kondisi yang sama sekali berbeda. Akan tetapi bila ini dijadikan sebab utama, bukankah di situ ada filter sosial ;keluarga dan lembaga pendidikan?.

Dengan banyaknya argumentasi yang timbul dari persoalan semacam ini, kesimpulan-kesimpulan yang didapati akan sangat beragam, bahkan cenderung tak terukur, akan tetapi, selalu saja ada yang luput dari pandangan-pandangan majemuk untuk sebuah persoalan, tak terkecuali dalam masalah ini. Yang sering dilupakan orang adalah, desa memiliki  kearifan lokal, tradisi dan akar budaya turun temurun, yang mana kesemuanya ini adalah hal yang tak mudah untuk dipahami oleh orang dengan individualitas dan sekeptis tinggi.

 

Tentang penulis:   

  

Lahir di Tuban pada 1987, 

Aktif sebagai aktor, sutradara dan penulis naskah teater di Tuban sejak di bangku SMA 

Besama teman-teman masa kecilnya mendirikan teater kaleng tahun 2005 dan pada 2018 berhimpun bersama pemuda plumpang lainya dalam”Pemuda Bergerak Plumpang”

Naskah lakon yang pernah ditulisnya antara lain, Sore di beranda, Ketika aku menginginkanmu, Nyanyian bendera, Sangkini (adaptasi dari naskah sangkuni 2018 karya MH Ainun najib), cantrik, Loka 1, Loka 2, Ambigu

Alumnus prodi pendidikan bahasa dan sastra UNIROW Tuban tahun 2010 ini, selain ber-teater dan menjadi penulis lepas untuk beberapa media online juga aktif menggalakan budaya padi bersama pemuda bergerak Plumang dan petani-petani di desa kelahiranya

                                                      

           

 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Aparatur Desa

Jadwal Waktu Sholat

Tuban adalah Kita

Layanan Mandiri

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Sinergi Program

Website Tuban
Pengaduan Masyarakat
Covid Jatim
Covid Tuban
JDIH Kabupaten Tuban

Agenda

Info Media Sosial

Komentar Terkini

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:38
    Kemarin:165
    Total Pengunjung:63.037
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:18.208.187.128
    Browser:Tidak ditemukan