Selamat Datang di Website Resmi Desa PEMDES PLUMPANG PLUMPANG DESA DIGITAL

Artikel

PERTAHANKAN BUDAYA LELUHUR, WARGA PLUMPANG GELAR WIWIT MASAL

09 Maret 2022 21:24:28  Admin Desa  487 Kali Dibaca  Berita Desa

Plumpang, 09/02/22 puluhan petani Plumpang berkumpul di area persawahan tikungan tajam RT 04 RW 09. Dalam acara Wiwit masal. Acara yang menjadi salah satu ikon desa wisata budaya padi tersebut di ikuti tak kurang dari 60 petani setempat.

Bukan hanya petani, acara budaya ini juga turut dihadiri Hartomo anggota DPRD Kab Tuban, perwakilan kecamatan Plumpang, Seniman tetater kota Tuban, Pemdes setempat, serta tokoh masyarakat. Acara yang berlangsung khusuk dan hikmat selama dua jam lebih itu turut pula menyita perhatian warga.

Wiwit sendiri merupakan ritual sukuran para petani sebelum panen padi dimulai. Dipimpin oleh seorang sesepuh yang disebut dukun tanduk dengan memakai banyak perlengkapan sesaji khas adat Jawa.

Dalam sambutanya tokoh-tokoh yang hadir menekankan pada warga serta petani, untuk senantiasa menjaga dan melestarikan budaya leluhur seperti Wiwit ini. Terlebih dari bulan November tahun lalu Desa Plumpang telah menyandang predikat desa wisata budaya padi. Diresmikan langsung oleh kadin kebudayaan dan pariwisata  kabupaten Tuban.

Kadus Plumpang Suparji menuturkan Plumpang serius dalam upaya pelestarian budaya "kita berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur" ungkapnya saat menyampaikan pidato sambutanya.

Hal senada juga disampaikan oleh anggota DPRD Kab Tuban Hartomo "ini adalah hal yang sangat patut kita apresiasi bersama, budaya seperti ini jangan sampai punah dan harus selalu kita jaga" tegasnya.

Sementara itu, Catur yang mewakili camat Plumpang. Menyampaikan sebuah contoh dalam pentingnya menjaga budaya "kata matoh yang merupakan kata-kata khas orang Tuban, sekarang telah dipakai taklen daerah lain, Kalau kita tidak pandai menjaga budaya kita, tidak menutup kemungkinan hal semacam itu bisa terjadi pada budaya-budaya yang lain juga" tuturnya.

Acara ini sendiri digelar secara masal memang bertujuan agar lebih semarak, dan petani tidak merasa berat, karena harus melaksanakanya secara individu. Dimana diketahui bahwa upacara budaya ini telah dua kali digelar setelah dulunya cukup lama sepi.

Para petani mengaku senang serta  berharap acara semacam ini bisa terselenggara rutin setiap waktu panen tiba. */Bam 

 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Aparatur Desa

Jadwal Waktu Sholat

Tuban adalah Kita

Sinergi Program

Website Tuban
Pengaduan Masyarakat
Covid Jatim
Covid Tuban
JDIH Kabupaten Tuban

Agenda

Info Media Sosial

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:80
    Kemarin:364
    Total Pengunjung:79.876
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.238.72.180
    Browser:Tidak ditemukan

Arsip Artikel

29 Juli 2013 | 2.296 Kali
Informasi Berkala
26 Agustus 2016 | 1.318 Kali
Sejarah Desa
20 April 2014 | 820 Kali
Pelayanan Nikah
26 Agustus 2016 | 767 Kali
Wilayah Desa
24 Agustus 2016 | 699 Kali
Visi dan Misi
30 April 2014 | 684 Kali
Redaksi
21 April 2020 | 649 Kali
Tuban Raih Penghargaan di Bidang Teknologi Informasi, Ini Rahasianya
18 Maret 2022 | 355 Kali
HASIL MELIMPAH PETANI KAMPUNG BUDAYA PADI NENGAKU SENANG
20 April 2014 | 820 Kali
Pelayanan Nikah
20 April 2014 | 582 Kali
Pelayanan KK
21 April 2020 | 492 Kali
Tuban Raih Penghargaan Gerakan Menuju 100 Smart City 2018
31 Maret 2013 | 497 Kali
BUM Desa
30 April 2014 | 684 Kali
Redaksi
05 Mei 2022 | 361 Kali
Sedekah bumi. Identitas budaya agraris